Piramida Maslow dan Kelakuan Netijen
Someone has to know. Someone has to approve. Someone has to say: “Wow. You made it.”
And suddenly, social media becomes one giant validation machine.
Including mine. Especially mine.
Kacau.
When I was younger, kira-kira anak SD umur 8–10 tahun, ketika melihat perempuan seumuran saya sekarang, saya selalu mengira kalau mereka pasti bisa menyelesaikan semua masalah. They know how to run their life. Seamlessly. Dan itu juga alasannya saya ingin cepat besar. Seperti para kakak itu (eh, tante kayaknya).
Seeing them dress well, talk in confidence, buy me loads of chocolate and foods my parents wouldn’t allow me. Siapa coba yang tidak ingin dewasa. Ketika PR dan tugas sekolah rasanya tidak pernah habis. Belajar malam rasanya membosankan karena masih ingin terus main. Anak laki-laki di kelas yang kelakuannya seperti monyet dan berakhir kami saling baku hantam di jalan raya dan besoknya dipanggil kepala sekolah. Belum lagi buku-buku pinjaman dari perpustakaan yang harus dijaga baik, tidak boleh ditekuk dan dilipat, sementara kalau mau membeli buku sendiri uang saku mana cukup.
Well, now I am in that age, usia yang oleh anak-anak SD sudah sangat pantas dipanggil tante. Dan memang, Valerie, Yuki, dan Sagara (my bestest friends kids) juga sudah panggil saya Tante. Saya pikir, di usia ini I would have figured out life to the fullest. Apparently not. Life is still complicated, problems are still around, and a lot. I still doubt myself often, feeling like an imposter for real.
The difference? I am getting better and better at my poker face skill, dan yang lumayan menyenangkan saya punya uang. Bukan uang yang sangat banyak dan saya kaya raya, that would be nice though.
Saya beruntung, saya punya pekerjaan yang saya suka. Dan membayar saya cukup. Benar, cukup untuk apa yang saya butuhkan, meskipun tidak untuk semua yang saya inginkan. Tapi entah kenapa rasanya selalu ada yang kurang. Those things that when I was a young girl, I thought I would be able to figure out.
Ternyata meskipun sudah di mid-life ini, berarti asumsinya manusia itu umurnya 70–80 tahun lah ya. Banyak hal yang masih membuat saya gamang dan galau. If you have not experienced this, bravo! You successfully managed your sh*t together. If you have, then welcome to the midlife crisis gang!
This is what I feel and experience from time to time.
Jatuh cinta masih semenyenangkan itu, dan patah hati tetap sesakit itu. Galau mencintai orang yang kita tahu tidak tepat, sedih ketika hubungannya tidak seperti yang dibayangkan dan harus berakhir naas. Rasanya seperti ketika jatuh cinta jaman SMA itu. Pantas saja lagu-lagu cinta itu lintas generasi dan selalu laris manis.
Menyampaikan pendapat dan isi kepala tetap saja susah dan banyak tantangan. Self confidence yang kadang MIA. Tetap ada orang-orang lebih senior dan unggah-ungguh sopan santun, belum lagi lingkungan yang kadang mengintimidasi. Mereka yang posisinya lebih tinggi, badannya lebih mengintimidasi, cara bicaranya lebih menakutkan. Macam jaman SD harus bilang ke bapak pengen ke berak saat bapak ngobrol dengan teman-temannya, pelik!
Bingung membeli barang, between the need and the want. Seringnya galau ini berujung pada impulsive buying. Membeli barang-barang tidak penting hanya dengan dalih self reward! Lalu uangnya habis entah ke mana, lalu menyesal kenapa tidak bisa lebih dewasa. Bulan depan begitu lagi. Semacam waktu SMP, punya bekal 5 ribu sebaiknya beli nasi atau jepitan kupu-kupu yang dijual abang-abang depan sekolahan. Bodoh memang. Dan yang tidak disangka, bodohnya dibawa sampai sudah umur tante begini!
Growing up, I thought I could figure out life better, but in reality, it’s just as confusing as when I was a kid. The good thing? It means life is still fun! :)
Enjoying the ride, embracing the midlife crisis gracefully now!
Happy weekend, peeps.
Sebenarnya tidak hanya ketika sangat marah, tapi saat emosi sangat meledak-ledak. Marah, sedih , kecewa, putus asa. Pokoknya emosi - yang biasanya dilabel negatif - dan terlalu berlebihan.
Tulisan ini berdasarkan pengalaman-pengalaman saya selama menghadapi emosi orang lain maupun emosi diri sendiri yang kadang sulit untuk dikendalikan. Dan saya bukan psikolog atau terapis. Saya mbak-mbak kantoran HRD. Jadi mungkin langkah-langkah ini bisa diterapkan kaitannya di tempat kerja, Kalau dengan pasangan entahlah, saya pernah menengahi pertengkaran beberapa hubungan personal dengan langkah-langkah ini lumayan berhasil juga.
Suka tidak suka, kita adalah manusia dengan segala kompleksitas emosi yang bahkan Freud saja masih belum bisa menjelaskan segalanya. Apalagi ketika terjebak dalam kondisi yang tidak nyaman, entah karena orang-orang di sekitar yang bebal, bos menyebalkan, pasangan yang tidak paham, pemerintah yang ingkar (EH), ataupun faktor internal dalam diri, hormon yang tidak stabil dan reaksi kimia dalam tubuh yang tidak bisa di kontrol. Ketika semuanya meledak disaat bersamaan, maka emosi akan menguasai logika. Itu tadi, marah, sedih, kecewa yang berlebihan dan kadang berbahaya.
Dalam keadaan demikian, sangat krusial untuk menemukan solusi jangka pendek agar bisa tenang sebelum nantinya bisa berpikir lebih jauh untuk jalan keluar jangka panjang dan lebih permanen.
Dalam kondisi begitu, biasanya saya melakukan beberapa langkah ini, mudah-mudahan membantu!
Bernapas pelan-pelan
Entah saya membaca atau mendengakan ini dimana, saya lupa. Intinya, tarik napas yang dalam, kemudian hitung empat ketukan lalu perlahan-lahan hembuskan. Lakukan berulang-ulang, fokus pada menghitung 1 sampai 4. Jatuhnya semacam guided meditation. Tapi ini yang meng-guide dan di-guide adalah diri sendiri.
Selain untuk mengalihkan pikiran dengan fokus pada berhitung, kegiatan bernapas pelan ini juga memberikan kesempatan untuk kita menghirup lebih banyak oksigen. Memastikan pasokan oksigen ke tubuh dan otak lebih lancar. Pelan-pelan lebih tenang dan bisa mulai berpikir sedikit lebih logis.
Berdasarkan pengalaman, ini selalu menjadi langkah pertama dan favorit saya. Karena bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. Di dalam meeting, saat dimarahi bos, saat menyaksikan kelakuan pemerintah yang bikin muak (DUH)
Jauhkan Diri dari Sumber Masalah
Ketika sedang sangat marah, argumentasi yang keluar biasanya tidak lagi masuk akal dan logis. Seringnya argumentasi kita adalah teriak-teriak, menangis, berkata-kata yang tidak pantas, tidak sanggup berkata-kata, dan dalam kondisi extrem bisa bersifat fisik.
Dalam kondisi ini, tidak ada keuntungan melanjutkan argumentasi. Tidak ada keputusan yang baik yang akan dihasilkan dalam kondisi ini. Takutnya malah akan semakin saling menyakiti. Berdasarkan pengalaman, mulai berlatih untuk bilang: saya tidak siap bicara sekarang, saya perlu waktu untuk menenangkan diri.
Menjauhkan diri tidak harus selalu pergi yang jauuuhhh, tiba-tiba healing ke Maldives. Bukan. Pindah ke ruangan lain, minum kopi/es teh sejenak. Nongkrong di dalam kamar mandi sambil menangis, merenung dan bernapas pelan-pelan juga tidak apa.
Tujuannya, menghindari satu sama lain saling menyakiti lebih jauh. Mengatakan hal-hal yang nantinya mungkin akan disesali. Mengeluarkan makian yang takutnya memperburuk hubungan yang sedang tidak stabil. Mengakui bahwa kita perlu waktu untuk menenangkan diri bukan berarti lemah, malah ini menurut saya adalah tanda kekuatan. Memiliki kesadaran dan pengendalian diri yang lebih baik.
Re-visit the Day: Jika Waktu Bisa Diulang, Apa yang Akan Saya Lakukan Berbeda?
Tentu saja waktu tidak bisa diulang. Pertanyaan ini lebih untuk mengevaluasi apa yang terjadi disaat emosi kita tidak bisa dikontrol itu.
Istilahnya revisit the day.
Kunjungi momen-momen itu sebisa mungkin menggunakan sudut pandang orang ketiga, kita sebagai penonton. Bagaimana awalnya kekacauan bermula, apa penyebabnya, apa reaksimu saat itu. Apa yang sebenarnya berjalan baik, apa yang seandainya bisa diperbaiki agar menjadi baik, reaksi apa yang seharusnya diberikan agar suasana menjadi lebih jernih.
Untuk saya, kegiatan ini membantu untuk mencari solusi, menemukan gap antara pihak-pihak yang berseteru, mempermudah meminta maaf dengan tulus. Kadang-kadang juga tamparan untuk diri sendiri kenapa harus bereaksi berlebihan seperti itu. Kegiatan ini juga kadang membuat saya meringis malu, bahkan tertawa terbahak-bahak. Menertawakan diri yang sering kali bodoh dan tidak berpikir panjang.
Revisit the day tidak hanya saat saya mengalami emosi extrem. Di hari-hari normal, berat, susah, ringan, bahagia juga sering saya lakukan. Yang sering saya katakan: saat hari itu dijalani rasanya berat sekali, tetapi begitu diceritakan kembali malah jadi lucu dan seru!
Ide ini saya copy paste mentah-mentah dari film drama komedi judulnya About Time. Coba tonton deh, filmnya ringan dan menyenangkan.
Selesaikan Masalahnya
Ketika hati lebih tenang, pikiran lebih jernih, biasanya akan lebih siap menghadapi masalahnya. Lebih siap untuk mendengarkan, bernegosiasi, berargumentasi, dan juga meminta maaf.
Ketika lebih lapang dan kepala lebih dingin, kita juga lebih siap dengan konsekuensi dan jalan keluar. Semua ketakutan dan kekalutan seringnya hanya skenario terburuk yang muncul di kepala karena dikuasai marah.
Semua emosi sebaiknya tidak ditahan. Harus disampaikan, dan dicarikan jalan keluar. Tapi sebagai manusia dewasa, ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan. Itulah kenapa langkah-langkah menenangkan diri ini penting.
Jika memang akhirnya perlu bantuan lebih lanjut, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan yang lebih ahli. Itu adalah hal yang sangat baik! Karena tidak semua orang memiliki kesadaran untuk memperbaiki diri.
Pada akhirnya, emosi itu bagian dari kita sebagai manusia. Bukan untuk dihapuskan, tapi untuk dipahami dan dikendalikan.
Demikian, Semoga minggu depan jauh lebih menyenangkan!
Sudah terlalu lama tidak menulis. Terlalu overthinking. Apakah topik yang akan ditulis cukup menarik untuk dibaca orang-orang? Apakah premisnya cukup masuk akal untuk dijadikan sebuah artikel. Dan yang paling tidak bisa saya terima: apakah tulisan ini cukup keren untuk Winda, si mbak-mbak kantoran late thirties yang beberapa waktu terakhir banyak mengevaluasi posisinya di tempat kerja sebagai Director of Human Resources.
Ok, let me get this straight, I am now trying to be more honest to myself. Trying. Thats the key, and it might not be easy. For whatever reasons I dont know, i am not so comfortable to say and talk about my position out loud. I am grateful for sure. And of course proud. But, i am so afraid that it will sound sombong and people wont appreciate it.
Dont get me wrong, I love my job. I really do. Tidak seperti meme yang sering menertawakan office job seolah-olah kegiatan bekerja kantoran ini a big joke. No, for me, this is part of me. Part of my identity. Like it or not all my personal achievements are only possible because of this 9-6 job.
Not only the house, car, travelling, my parents comfort. Beyond that, my decision making skills, my problem solving capability, my "prepare for the worst" value, and even Winda the extrovert, all because I was well trained at work. Actually there were times i "consult" my friend, siblings, even my parents in a very "HR way" and thats what they like when they talk to me. Sense and solutions. I guess.
But sometimes i am overwhelmed. A friend told me once "Winda, i want you to feel! Angry with me! Sad with me! Not giving me some logical advice." Maybe this person were right. I have to feel a bit more. But feeling is hurt. I dont like it.
Being an HR Director I feel that have some sort of responsibility to be resourceful. When people are confused with their problem, i should always be able to give them options, to decide the solutions. You know, menjadi Kak Inda dan Ibu Winda. I tried, almost all the time. Tapi kadang-kadang saya juga tidak tahu jawabannya. Kesalahan terbesarnya mungkin, instead of bilang "maaf, i cant help you or i dont know what to do" saya biasanya akan bilang "wait, give me sometimes. let me think/find another way" It's actually menyenangkan. Rewarding malah kalau masalahnya selesai.
Ketika interview dengan tempat kerja yang sekarang, salah satu pertanyaannya (calon) bos adalah "what do you enjoy the most from your job" with no hesitation i said "conflict management. solving the unpleasant situation that seems unlikely to be handled by others." It sounds cooky i know, but thats the reality. The side effects, I actually absorbing lots of the collateral damage. The low energy, the heat of emotions, the wave of sadness, and of course the joy of celebrations. Maybe that's actually because I am a pick me girl. Am I? Always want to be different. Always want to control the room. The best in the group. The attention seeker. Maybe that's who I am.
What I am so afraid now? Am I being too much? Am I getting so sombong and annoyed people around me? Am I stealing the lights from others? I cant do this. I have to slow down. I have to lay low. I guess.
And I am tired. I need time alone. Soon.
Saya menulis ini dalam perjalanan kereta dari stasiun Tegal ke Gambir, setelah obrolan tanpa tujuan dengan Dok seperti biasa.
Keresahan-keresahan saya kali ini sebagian besar bersumber dari kondisi politik dan bagaimana pemerintah mengelola negara ini. Telalu banyak hal yang harus dikritisi dan dipertanyakan. Terlalu banyak hal yang diliuar nalar. Sebenarnya apa yang salah dengan Negara ini.
Dok membandingkan Indonesia dengan Cina. Saya protes keras. Terlalu jomplang lah. Pembadingnya akan menjadi oke kalau dibandingkannya dengan Rwanda atau Nigeria. Minimal Cambodia mungkin. Sekarang saja Vietnam nampaknya jauh lebih maju kok.
Kalau tidak percaya, baca berita ini: Pertumbuhan Ekonomi Vietnam Kalahkan Indoneisa
Suka tidak suka, pertumbuhan ekonomi pasti menjadi indikator keberhasilan suatu negara. Dan rumah tangga. Dan manusia pada umumnya. Meskipun katanya kebahagiaan tidak melulu tentang uang, tetapi pada porsi tertentu base line ekonomi itu harus terpenuhi dulu. Kan.
Lalu, setelah Presiden 8 berkuasa, masalah politik dan pemerintah rasanya semakin parah dan tidak pernah habis. Yang membuat gusar, urusan-urusan prinsip. Bagaimana pemerintah membelanjakan APBN. Membiayai program-program mercusuar yang sangat rentan (dan nyaris pasti) dikorupsi. Dan yang paling meresahkan saya adalah proses pengesahan UU TNI yang untuk ukuran negara se-lelet Indonesia, prosesnya sangat instant! Kebijakan-kebijakan yang terlalu mencurigakan untuk dipercaya niatannya benar-benar untuk kebaikan bangsa, bukan untuk kepentingan kaumnya.
Sebenarnya sudah beberapa kali kami membicarakan ini. Obrolan yang tidak berujung kemana-mana sebenarnya. Terlalu membuat mumet kalau tidak dibicarakan. Apa sih yang salah dengan negara ini. Kenapa mental manusianya (dan terutama pejabatnya) buruk sekali!
Hal yang harus saya jelaskan, Dok tidak selalu setuju kok dengan pandangan politik saya. Contoh, jaman debat capres dulu, Dok cukup percaya kalau Wapres sebenarnya lumayan pintar. Jawaban-jawaban yang diberikan bukan jawaban standar yang bisa dihapal, meskipun belakangan dia mulai mempertanyakan penilaiannya. Atau ketika muncul rekaman Presiden 8 diwawancara oleh para Pimred dan Najwa Shihab (saya belum nonton), katanya kelihatannya Pak Presiden ini terlihat pure ga tau banyak masalah yang sebenarnya terjadi. Tingkat kognitif beliau ya memang selalu segitu dari jaman dulu. Saya ngomel, itu salahnya, salah pilih orang! Tapi Dok bilang, untuk urusan sebesar ini, pasti akan ada yang kelewatan. Lagi-lagi saya tidak setuju. Yang kelewatan masalahnya urusan besar! Undang-undang! Bukan sekedar pejabat punya selingkuhan dan beranak pinak. Ya, saya perlu obrolan-obrolan penyeimbang ke-emosian macam ini.
Dalam setiap perdebatan dan obrolan yang lebih sering tidak berfaedah itu, ujung pertanyaannya selalu sama. Apa sih yang salah dengan Negara ini? Kenapa setelah nyaris 30 tahun reformasi, korupsi masih begitu-begitu saja, penegakan hukum juga begitu-begitu saja, pertumbuhan Ekonomi membaik tetapo kalau dibandingkan negara lain ya cukup sewajarnya, kekuatan Paspor juga tidak bertambah signifikan. Apa yang salah?
Ternyata kesimpulan kami juga selalu sama, entah apa, tapi cukup yakin ada yang salah dengan sistem pendidikan di Indonesia. Proses pembentukan karakter, ketahanan mental, daya juang, keinginan berkompetisi. Entah karena sistem pendidikan yang selalu berganti setiap pergantian menteri, entah kesejahteraan guru yang menjadi prioritas terakhir untuk negara ini, entah memang negara menganggap kepintaran itu tidak penting! Iya, kemarin Presiden 8 bilang gitu kok.
Contohnya, bapak saya adalah pensiunan guru SMA. Hampir separuh hidupnya menjadi Guru PNS. Beliau cerita, tingkat kelulusan murid SMA itu 100% bukan karena kualitas pendidikan dan anak-anak yang baik. Tetapi karena terpaksa! Karena ranking sekolah ditentukan oleh tingkat kelulusan itu, segala tunjangan guru yang tidak seberapa itu juga ditentukan oleh tingkat kelulusan. Tau ga gaji guru PNS itu berapa? Mereka yang sudah golongan IV macam Bapak, itu antara 3jutaan - 6jutaan saja. Itu mereka yang rata-rata masa kerjanya 20+ tahun! Coba saja tanyakan pada guru PNS disekitarmu atau cek artikel ini: Rincian Gaji Guru
Pun dengan kurikulum sekolah, kegiatan membaca tidak dianggap penting. Lihat saja kondisi perpustakaan di sekolah-sekolah, menyedihkan. Lebih penting makan siang gratis sih memang daripada membaca. Kalau ga makan mati, kalau ga membaca ya ga apa, masih hidup saja. Di banyak sistem pendidikan di negara maju, membaca adalah kewajiban, menulis adalah keharusan. Dua kegiatan yang di Indonesia ini sangat diremehkan. Padahal kegiatan ini lama-lama akan menjadi kebiasaan, menjadi budaya. Dan menurut saya, dua hal ini adalah dasar untuk berpikir kritis dan strategis. Well, bisa saja saya salah kan tapi.
Selain pendidikan, ada yang salah dengan sistem di negara ini. Tidak jauh-jauh dengan sistem pemerintah deh, sistem antrean rumah sakit coba. Kacau! Kapan terakhir kali anda ke rumah sakit pemerintah? Perhatikanlah sistem antreannya yang diterapkan, lalu pikirkan hal-hal yang bisa dipermudah dalam sistem birokrasinya. Bisa. Tapi entah kenapa tidak mau. Tidak kurang orang pintar yang bisa membuat sistem yang lebih rapi. Sehingga siapapun kepala rumah sakitnya, sistemnya sudah berjalan dan rapi. Apakabar sistem peradilan, tanya sekeliling deh kalau ada orang yang berkasus bagaimana (dan berapa uang) prosesnya berjalan. Riweh!
Begitu juga dengan pemerintahan dan politik. Sistem untuk menjaga stabilitas. Bukannya kalau pejabat Pak Ahok, baru bisa accountable, pejabat lain engga bisa. Seharusnya ada sistem yang bisa diterapkan. Banyak kok orang Indonesia yang sekolah ilmu politik bahkan ke sekolah-sekolah terbaik di muka bumi, tapi entah kenapa mereka semacam tidak dimanfaatkan. Malahan yang terpilih jadi Menteri banyak yang dipertanyakan kognitif dan intelktualnya, padahal sama-sama sekolah di luar negeri.
Banyak orang akan bilang kepada saya, jangan cuman bisa nyinyir dan protes, kasi solusi! Sejujurnya, ini sambil mikir solusinya apa. Akhir tahun lalu dengan seorang teman sempat ngobrol intense mau bikin sekolah! Rasanya sangat banyak hal yang perlu saya siapkan dan kerjakan. Tapi sekarang Ferry Irwandi katanya mau bikin sekolah, semoga Istiqomah dan Amanah!
Saya yakin, pendidikan yang baik akan mengubah banyak hal, termasuk kondisi negara!
Sementara ini, ijinkan saya mengeluh saja dulu ya. Beasiswa kakak asuh tetap jalan kok. 4 anak sudah sarjana dan bekerja, 2 lagi masih kuliah. Semoga ini menjadi salah satu jalan untuk mereka menjadi warga negara yang lebih baik. Setidaknya tidak nambah-nambahin carut marut sosial ekonomi. Semoga bisa terus berlanjut, diberi rejeki dan kewarasan.
Happy weekend!
P.S tulisannya akhirnya selesai di Sanur, sambil minum kopi dan memandang lautan.
![]() |
| Source: Photo by Brian Wertheim on Unsplash |
Sabtu pagi, saya punya waktu berlama-lama melakukan ritual sakral wajib semua umat manusia di kamar mandi. Sambil nongkrong, mendengar lagu-lagu India romantis, sambil melakukan keahlian utama saya, daydreaming alias berkhayal.
Menghayalnya jadinya romantis, gegara mabok lagunya Arijit Singh dan Armaan Malik nampaknya. (Karena kalu dengarinnya produk Hans Zimmer menghayalnya biasanya tentang alien).
Okay, lets talk about love. The most favorite eternal topic. Bukan tentang jatuh cinta, dimabuk cinta atau putus cinta. I have no enough capability to talk about it. Urusan percintaan romantis saya mainly gagal total. This is about love it self. What love is.
Under my nice morning hot shower, saya memutuskan cinta adalah kemauan dan kehendak ikhlas untuk berkompromi dan berkorban demi orang lain (atau hal lain) yang pada akhirnya menjadi sumber kebahagiaan personal. Nah, ribet ga tuh!
Lets put that in a bullet points, yaps clarity needs bullet points including love!
Sama seperti kembang api, orang-orang dulu mengira kembang api itu produk sihir. Kenyataannya adalah kombinasi kimia yang komplex dengan hasil yang indah. That's love. Chemical reaction. Reaksi kimia dalam otak dan tubuh manusia dan menghasilkan rasa yang indah macam butterfly in my stomach - situation. Duh, ini ga nyambung blas. next!
Tapi entahlah ya, di salah satu artikel BBC (klik disini kalau mau baca) menyatakan bahwa tahun 2018 93% pernikahan di India itu karena perjodohan. Dan menariknya lagi, India tergolong negara dengan tingkat perceraian paling rendah di dunia.
Padahal kalau menggunakan argumen lemah saya tentang Kehendak Ikhlas, perjohohan harusnya kehendak dipaksakan dong. Well, marriage doesn't necessarily about love and we are all agree about that (I hope). Sementara tentang angka perceraian, ada jauh lebih banyak kompleksitas sosial yang harus dijabarkan ketika menjelaskan angka-angka ini. Termasuk agama, ekonomi, bahkan politis.
Duh, ga nyambung lagi. Next dan janji akan balik ke setingan romantis!
![]() |
| Disclaimer: this photo is for illustration only 😜 |
| Dari berbagai sumber termasuk data BPS. |
![]() |
| Source: https://vocal.media/confessions/millennial-and-gen-z |
![]() |
| Source: https://www.investopedia.com/generation-z-gen-z-definition-5218554 |
A Piece of Mind . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates