Sunday, April 12, 2026

When I was younger, kira-kira anak SD umur 8–10 tahun, ketika melihat perempuan seumuran saya sekarang, saya selalu mengira kalau mereka pasti bisa menyelesaikan semua masalah. They know how to run their life. Seamlessly. Dan itu juga alasannya saya ingin cepat besar. Seperti para kakak itu (eh, tante kayaknya).

Seeing them dress well, talk in confidence, buy me loads of chocolate and foods my parents wouldn’t allow me. Siapa coba yang tidak ingin dewasa. Ketika PR dan tugas sekolah rasanya tidak pernah habis. Belajar malam rasanya membosankan karena masih ingin terus main. Anak laki-laki di kelas yang kelakuannya seperti monyet dan berakhir kami saling baku hantam di jalan raya dan besoknya dipanggil kepala sekolah. Belum lagi buku-buku pinjaman dari perpustakaan yang harus dijaga baik, tidak boleh ditekuk dan dilipat, sementara kalau mau membeli buku sendiri uang saku mana cukup.

Well, now I am in that age, usia yang oleh anak-anak SD sudah sangat pantas dipanggil tante. Dan memang, Valerie, Yuki, dan Sagara (my bestest friends kids) juga sudah panggil saya Tante. Saya pikir, di usia ini I would have figured out life to the fullest. Apparently not. Life is still complicated, problems are still around, and a lot. I still doubt myself often, feeling like an imposter for real. 

The difference? I am getting better and better at my poker face skill, dan yang lumayan menyenangkan saya punya uang. Bukan uang yang sangat banyak dan saya kaya raya, that would be nice though.

Saya beruntung, saya punya pekerjaan yang saya suka. Dan membayar saya cukup. Benar, cukup untuk apa yang saya butuhkan, meskipun tidak untuk semua yang saya inginkan. Tapi entah kenapa rasanya selalu ada yang kurang. Those things that when I was a young girl, I thought I would be able to figure out.

Ternyata meskipun sudah di mid-life ini, berarti asumsinya manusia itu umurnya 70–80 tahun lah ya. Banyak hal yang masih membuat saya gamang dan galau. If you have not experienced this, bravo! You successfully managed your sh*t together. If you have, then welcome to the midlife crisis gang!

This is what I feel and experience from time to time.

Jatuh cinta masih semenyenangkan itu, dan patah hati tetap sesakit itu. Galau mencintai orang yang kita tahu tidak tepat, sedih ketika hubungannya tidak seperti yang dibayangkan dan harus berakhir naas. Rasanya seperti ketika jatuh cinta jaman SMA itu. Pantas saja lagu-lagu cinta itu lintas generasi dan selalu laris manis.

Menyampaikan pendapat dan isi kepala tetap saja susah dan banyak tantangan. Self confidence yang kadang MIA. Tetap ada orang-orang lebih senior dan unggah-ungguh sopan santun, belum lagi lingkungan yang kadang mengintimidasi. Mereka yang posisinya lebih tinggi, badannya lebih mengintimidasi, cara bicaranya lebih menakutkan. Macam jaman SD harus bilang ke bapak pengen ke berak saat bapak ngobrol dengan teman-temannya, pelik!

Bingung membeli barang, between the need and the want. Seringnya galau ini berujung pada impulsive buying. Membeli barang-barang tidak penting hanya dengan dalih self reward! Lalu uangnya habis entah ke mana, lalu menyesal kenapa tidak bisa lebih dewasa. Bulan depan begitu lagi. Semacam waktu SMP, punya bekal 5 ribu sebaiknya beli nasi atau jepitan kupu-kupu yang dijual abang-abang depan sekolahan. Bodoh memang. Dan yang tidak disangka, bodohnya dibawa sampai sudah umur tante begini!

Growing up, I thought I could figure out life better, but in reality, it’s just as confusing as when I was a kid. The good thing? It means life is still fun! :)

Enjoying the ride, embracing the midlife crisis gracefully now!

Happy weekend, peeps.

A Piece of Mind . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates