Saturday, August 8, 2026

Gegar social media terus berlanjut. Tidak hanya rakyat jelata yang sibuk mencari nafkah, pejabat publik juga kerap jadi tersangka dan pelaku. Terutama di Instagram, ada aja kelakuan ajaibnya. Mulai dari menyebar aib sampai sibuk klarifikasi. 

Yang paling geger (menurut hemat saya) adalah ketika pejabat kelas Sekretaris Kabinet membuat video klarifikasi perjalanan Presiden ke luar negeri, sampai-sampai menjelekkan diplomat senior. Ujungnya, video klarifikasi yang dibuat sangat estetik ini malah blunder. Si Seks-Kab malu? Tentu tidak. Kan powerful. 

Belum lagi salah satu akun IG yang baru-baru membahas fashion para pejabat yang digaji dari pajak yang dibayarkan oleh kita rakyat jelata. Akun pertama mereka @cabinetcouture_idn di banned langsung atas permintaan Komdigi, dan et voila they are back stronger and sassier with their second account @cabinetcouture_season2 Mampuslah pejabat-pejabat dan keluarganya yang korup dan suka pamer itu.

Well, thats the point, kalau uangnya haram, kenapa tetap pamer? like WHY?

Kemudian muncul Threads. Tempat bermain baru semua orang, termasuk saya. Segala kerandoman, segala topik, campur baur. Dan nampaknya algoritmanya memang sangat rando, jadi feeds saya isinya amat sangat beragam. 

Beberapa topik, menjadi sensasi se-Indonesia Raya. Topi receh tapi lekat dengan kehidupan rakyat jelata macam kita. Sempat huru-hara tentang Tumbler yang ketinggalan di kereta. Saya dan teman IRL bahkan ikut membahas. POV dari sisi si pemilik tumbler, petugas kereta, dan netijen. Heboh pokoknya.

Lalu yang baru saja menarik perhatian saya minggu lalu, tentang Istri SPV. Intinya seorang istri yang mengumbar chat suaminya dengan rekan kerjanya. Suaminya adalah seorang supervisor, chat pekerjaan dengan staffnya yang baru join beberapa bulan. Si istri merasa, chat-nya kurang pantas. Calon pelakor katanya. Sayangnya Netijen tidak setuju. Dihujat dia. Ramai! Saya juga tidak setuju dengan istri SPV ini sih. 

Belakangan ini saya jadi sering kepikiran, tentang pejabat yang suka klarifikasi, atau yang suka pamer harta, lalu tentang netijen. Kita. Manusia. Apa sebenarnya yang kita cari dari memasang apapun yang kita lakukan, kita capai, kita punya di sosial media? Flexing tipis-tipis, pamer tanpa kita sadari, post tentang sedang minum kopi cantik, post tentang liburan, jam tangan harga miliaran, tas UMKM Paris dari kulit Yeti, atau sepatu boot kulit Naga Nordik buatan pengerajin Italia. 

What are we looking for? 
VALIDATION

Well, this brings me back to the old basic economy class during high school. Maslow's Hierarchy of needs. Remember that one? Piramida, yang paling bawah adalah kebutuhan dasar. Makan, minum, sandang, pangan. In this era internet access masuk basic need deh kayaknya ya? pardon my scattered around brain as always.

Piramida yang ini yang saya maksud (with my absurd interpretation 😬)



Dalam hirarki Maslow, level 4 adalah esteem. Isinya kurang lebih achievements, confidence, respect & recognitions. Things around that. Sebelum jaman sosmed, kita hanya bisa pamer pada orang terdekat. Keluarga, teman, rekan kerja, tetangga, paling jauh warga kampung palingan terutama kalau juara lomba Agustusan di umumkan di lapangan saat upacara bendera. Atau kalau ikut kuis Family 100 di TV.

Sosmed membuat audience-nya menjadi sangat tidak terbatas. Mudah diakses dan nyaris tanpa efforts. Manusia modern nampaknya perlu validasi untuk nyaris segalanya. Or at least saya, sudah pasti saya. Minum kopi - post. Jalan pagi - post. Nonton bioskop - post. Jalan ke pasar - post. Beberapa menit kemudian, cek berapa like, cek berapa yang seen the story, cek berapa yang react. Kacau.

Banyak yang bilang pamer-pamer, flexing-flexing ini berlebihan. Terutama anak gen Z yang tipe sosmednya kosong melompong. Kalau pembelaan saya, well this is the media yang diperuntukkan untuk itu. Sama seperti Bank, diperuntukkan untuk kredit, bukan pinjol! Duh, ngawur lagi otaknya.

But, with that analogy, pinjol maksudnya, akan menjadi salah ketika validasi yang dicari adalah untuk hal-hal yang bukan pencapaian. You got what i mean? Gini, when you pamer about your achievements, eventho its small, people tend to either celebrate it with you, ignore you, or sometimes sinis aja. I know, netijen itu sering jahat dan kejam memang. But Threads people are also unique kok, kemarin saya lihat ada orang post her first baju uniqlo, and people actually celebrate it with her. Banyak orang-orang baik dan sangat positive.

Lalu apa bedanya dengan istri SPV, atau mbak tumbler biru?
Well, i guess, mereka instead of needing the validation of their achievements, mereka malah mengumbar aib. Nampaknya small part of it memang untuk validasi. Bahwa suaminya sudah di posisi supervisor dan (maybe in her opinion) ganteng banget samapi-sampai staffnya ganjen banget dan suka nanya tentang pekerjaan.

Atau Mbak tumbler mau bilang bahwa dia sanggup dan mampu membeli tumbler toko kopi kekinian, dan punya suami yang membelanya habis-habisan. Well i can understand that (or maybe not) karena kalau itu kejadiannya di saya, saya tidak punya suami untuk membela. Duh ngawur lagi.

Atau ketika para keluarga pejabat itu mampu naik kelas bisnis ke Eropa, punya akses VIP ke backstage artis KPOP idola multiverse, mereka pikir itu pencapaian, padahal aib! Shame on them.

Tapi kalau dipikirkan lagi, jangan-jangan mereka memang belum siap sampai di level esteem, mungkin bagian love & belonging belum terpenuhi. 

Tidak punya teman-teman yang supportive (siapa yang mau tulus berteman dengan koruptor kalau bukan untuk keuntungan semata).

Keluarga yang bukannya menjadi tempat aman malah menjadi sumber insecurity.

Hubungan personal dengan pasangan yang tidak setara dengan alasan apapun.

Dan parahnya lagi ditambah dengan tuntutan lingkungan sekitar yang mengharapkan semua orang hidup dengan standar ideal tertentu?

Maybe that’s why some people need everyone to see what they have. Because having it is not enough.
Someone has to know. Someone has to approve. Someone has to say: “Wow. You made it.”

And suddenly, social media becomes one giant validation machine.
Including mine. Especially mine.

Kacau.


Winda, 8-8-26





A Piece of Mind . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates