Sunday, November 16, 2025

Negeri Para Pelupa

1.
Masih ingatkah kalian pada Harun Masiku?
Tidak? Namanya sempat disebut di film Agak Laen.
Politisi partai banteng yang hingga kini masih buron. Ada di website KPK.
Dia menyuap komisioner KPU agar bisa menjadi anggota DPR!
Kejadiannya 2018 -2019 lalu. Kemarin sempat rame lagi gara-gara penetapan Hasto, Sekjen PDIP ditetapkan menjadi tersangka. 
Saya lupa.

2.
Kalau Ahmad Jauhari ingat?
Dia adalah pejabat Kementrian Agama.
Tahun 2013 KPK menetapkan dia menjadi tersangka kasus korupsi pengadaan Al-Quran!
Bayangkan! Kitab suci berisikan wahyu Tuhan saja bisa dia korupsi.
Sulit seharusnya untuk lupa.
Saya hampir lupa..

3.
Nama Ratu Atut Chosiyah masih ingat? 
Cantik, mukanya glowing, tanpa kerutan! Alisnya juga cetar.
Mantan Bupati Banten. Dipenjara karena Korupsi.
Menyuap Ketua MK untuk "membereskan" sengkarut kasus pilkada adiknya, Wawan.
Tapi, yang paling penting adalah, nyaris semua anggota keluarganya menjadi politisi.
Adik-adik, dan ipar-ipar. Katanya total ada 7 orang! Bapaknya konon adalah bos para Jawara.
Oh, dia dibebaskan lebih cepat dari masa hukumannya. Bersyarat katanya
Tapi dia sudah bisa datang ke acara pelantikan anggota DPRD tuh kemarin.
Saya nyaris saja lupa! Padahal saya pernah menulis tentang dia.

4.
Tahu Firli Bahuri? Mantan Ketua KPK.
Harusnya memberantas korupsi.
Dia yang malah berkasus. Memeras koruptor yang sedang dia periksa!
Tidak hanya sekali. Berkali-kali. Sepanjang 2019 - 2023.
Targetnya mulai dari Gubernur/Bupati problematik
Sampai Menteri kaya raya, yang ada iklannya di TV!
Sekarang entah bagaimana kelanjutan kasusnya. 
Sebentar lagi saya pasti lupa!

5.
Mudah-mudahan kita tidak lupa dengan kasus "Papa Minta Saham"
Setya Novanto. Koruptor mega proyek e-KTP.
Yang baru saja dibebaskan bersyarat, setelah 8 tahun penjara dari total 12,5 tahun.
Pun meski bersyarat dia tidak harus menjalani wajib lapor. Mantap!
Nilai kerugian negara? Triliunan!
Carut-marut e-KTP masih tersisa sampai hari ini.
Hebat sekali memang negeri ini!
Apakah kita bisa dengan mudah lupa yang begini?
Saya tidak ingin lupa!

6.
Jika mendengar nama Urip Tri Gunawan
Apa yang terngiang di kepala? Tidak Ada?
Bagaimana dengan kasus BLBI? 
Urip adalah jaksa yang “berjasa” menghentikan penyelidikan kasus BLBI
Dengan upah lelah 6 miliar. Salah satu Pangeran Cendana juga ada dalam pusaran kasusnya
Kerugian negara katanya mencapai 140an Triliun! Tahun 1998-1999! 
Saya tak ingin lupa..

7. 
Kalian pasti dan harus ingat dengan Munir Said Thalib.
Hanya Pollycarpus yang dihukum berat, seharusnya 20 tahun, tapi bebas juga setelah 8 tahun.
Dua orang "admin" hanya duhukum kurang dari 2 tahun saja.
Sementara otak pembunuhannya, sampai hari ini tidak tahu siapa.
Tidak ada yang diadili, tidak ada yang bertanggungjawab!
21 Tahun berlalu, kasusnya masih abu-abu! 
Pollycarpus saja sudah mati dan jadi debu!
Kita semua dipaksa lupa!

8.
Kita tidak boleh lupa Syafiuddin Kartasasmita.
Dia adalah Hakim Agung yang dibunuh oleh antek pangeran cendana. 
Karena beliau menangani kasus korupsi Bulog yang melibatkan sang mantan putra mahkota itu.
Ya, tahun 2001 beliau ditembak mati dalam perjalanan ke kantor.
Sang pangeran? Sudah bebas tetap kaya raya dan berkuasa. Punya partai pula!
Saya tidak akan lupa.

9.
Bagaimana dengan si paling berkuasa?
Apakah dia depecat? Mengundurkan diri? Pensiun dini?
Lalu dia ke Jordan untuk apa? Mencari suaka? Diasingkan? Menenangkan diri?
Bagaimana dengan kelanjutan peradilan Tim Mawar?
Cukup selesai di tangan Pengadilan Militer.
Mereka diberhentikan. Lalu apa?
Tetap jadi penguasa negeri. Ada juga yang diangkat jadi Dirjen Beacukai Kemenkeu.
Biasa saja.
Karena dikiranya kita lupa!

Jika semudah itu kita lupa
Jika semudah itu kita mengijinkan mereka berjaya
Jika kita sepermisif itu pada bromo corah celaka
Ini yang terjadi
Kita dibuat lupa, bahkan mungkin sengaja dibuat tak pernah paham.
Kita lupa siapa yang memperkaya anak, cucu dan menantunya dengan berbagai yayasan yang dia dirikan dan uangnya entah dari mana dan ke mana.
Kita tak lagi bisa mencerna, pembangunan yang katanya massive dan disegani seantero dunia itu dari penyalahgunaan hutang negara dan exploitasi sumber daya untuk kepentingan Bapak.
Siapa yang dibunuh dan menyuruh membunuh ratusan ribu dan bahkan mungkin jutaan orang tahun 1965-1966.
Siapa yang ditembaki dan dibuang ke gorong-gorong dan got selama tahun 80an, demi katanya keamanan nasional.
Kerusuhan dan pembungkaman selama berpuluh tahun.
Jangankan diadili, dibicarakan juga tidak. Seolah-olah jika berani mengucapkan, maka hantu masa lalu itu akan bangkit dan menjerat lidah-lidah para pencari cerita sebenarnya.

Kita hidup di Negeri Para Pelupa.
atau Dipaksa Lupa
Lalu tiba-tiba dia menjadi Pahlawan Nasional.

Dan semua orang bersorak gembira.

Andai saja saya lupa!

Sunday, September 7, 2025

Jika Sangat Marah Harus Bagaimana?

Sebenarnya tidak hanya ketika sangat marah, tapi saat emosi sangat meledak-ledak. Marah, sedih , kecewa, putus asa. Pokoknya emosi - yang biasanya dilabel negatif - dan terlalu berlebihan.

Tulisan ini berdasarkan pengalaman-pengalaman saya selama menghadapi emosi orang lain maupun emosi diri sendiri yang kadang sulit untuk dikendalikan. Dan saya bukan psikolog atau terapis. Saya mbak-mbak kantoran HRD. Jadi mungkin langkah-langkah ini bisa diterapkan kaitannya di tempat kerja, Kalau dengan pasangan entahlah, saya pernah menengahi pertengkaran beberapa hubungan personal dengan langkah-langkah ini lumayan berhasil juga.

Suka tidak suka, kita adalah manusia dengan segala kompleksitas emosi yang bahkan Freud saja masih belum bisa menjelaskan segalanya. Apalagi ketika terjebak dalam kondisi yang tidak nyaman, entah karena orang-orang di sekitar yang bebal, bos menyebalkan, pasangan yang tidak paham, pemerintah yang ingkar (EH), ataupun faktor internal dalam diri, hormon yang tidak stabil dan reaksi kimia dalam tubuh yang tidak bisa di kontrol. Ketika semuanya meledak disaat bersamaan, maka emosi akan menguasai logika. Itu tadi, marah, sedih, kecewa yang berlebihan dan kadang berbahaya.

Dalam keadaan demikian, sangat krusial untuk menemukan solusi jangka pendek agar bisa tenang sebelum nantinya bisa berpikir lebih jauh untuk jalan keluar jangka panjang dan lebih permanen.

Dalam kondisi begitu, biasanya saya melakukan beberapa langkah ini, mudah-mudahan membantu!

Bernapas pelan-pelan
Entah saya membaca atau mendengakan ini dimana, saya lupa. Intinya, tarik napas yang dalam, kemudian hitung empat ketukan lalu perlahan-lahan hembuskan. Lakukan berulang-ulang, fokus pada menghitung 1 sampai 4. Jatuhnya semacam guided meditation. Tapi ini yang meng-guide dan di-guide adalah diri sendiri. 

Selain untuk mengalihkan pikiran dengan fokus pada berhitung, kegiatan bernapas pelan ini juga memberikan kesempatan untuk kita menghirup lebih banyak oksigen. Memastikan pasokan oksigen ke tubuh dan otak lebih lancar. Pelan-pelan lebih tenang dan bisa mulai berpikir sedikit lebih logis.

Berdasarkan pengalaman, ini selalu menjadi langkah pertama dan favorit saya. Karena bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. Di dalam meeting, saat dimarahi bos, saat menyaksikan kelakuan pemerintah yang bikin muak (DUH)

Jauhkan Diri dari Sumber Masalah
Ketika sedang sangat marah, argumentasi yang keluar biasanya tidak lagi masuk akal dan logis. Seringnya argumentasi kita adalah teriak-teriak, menangis, berkata-kata yang tidak pantas, tidak sanggup berkata-kata, dan dalam kondisi extrem bisa bersifat fisik.

Dalam kondisi ini, tidak ada keuntungan melanjutkan argumentasi. Tidak ada keputusan yang baik yang akan dihasilkan dalam kondisi ini. Takutnya malah akan semakin saling menyakiti. Berdasarkan pengalaman, mulai berlatih untuk bilang: saya tidak siap bicara sekarang, saya perlu waktu untuk menenangkan diri.

Menjauhkan diri tidak harus selalu pergi yang jauuuhhh, tiba-tiba healing ke Maldives. Bukan. Pindah ke ruangan lain, minum kopi/es teh sejenak. Nongkrong di dalam kamar mandi sambil menangis, merenung dan bernapas pelan-pelan juga tidak apa.

Tujuannya, menghindari satu sama lain saling menyakiti lebih jauh. Mengatakan hal-hal yang nantinya mungkin akan disesali. Mengeluarkan makian yang takutnya memperburuk hubungan yang sedang tidak stabil. Mengakui bahwa kita perlu waktu untuk menenangkan diri bukan berarti lemah, malah ini menurut saya adalah tanda kekuatan. Memiliki kesadaran dan pengendalian diri yang lebih baik.

Re-visit the Day: Jika Waktu Bisa Diulang, Apa yang Akan Saya Lakukan Berbeda?
Tentu saja waktu tidak bisa diulang. Pertanyaan ini lebih untuk mengevaluasi apa yang terjadi disaat emosi kita tidak bisa dikontrol itu. Istilahnya revisit the day.

Kunjungi momen-momen itu sebisa mungkin menggunakan sudut pandang orang ketiga, kita sebagai penonton. Bagaimana awalnya kekacauan bermula, apa penyebabnya, apa reaksimu saat itu. Apa yang sebenarnya berjalan baik, apa yang seandainya bisa diperbaiki agar menjadi baik, reaksi apa yang seharusnya diberikan agar suasana menjadi lebih jernih. 

Untuk saya, kegiatan ini membantu untuk mencari solusi, menemukan gap antara pihak-pihak yang berseteru, mempermudah meminta maaf dengan tulus. Kadang-kadang juga tamparan untuk diri sendiri kenapa harus bereaksi berlebihan seperti itu. Kegiatan ini juga kadang membuat saya meringis malu, bahkan tertawa terbahak-bahak. Menertawakan diri yang sering kali bodoh dan tidak berpikir panjang. 

Revisit the day tidak hanya saat saya mengalami emosi extrem. Di hari-hari normal, berat, susah, ringan, bahagia juga sering saya lakukan. Yang sering saya katakan: saat hari itu dijalani rasanya berat sekali, tetapi begitu diceritakan kembali malah jadi lucu dan seru! 

Ide ini saya copy paste mentah-mentah dari film drama komedi judulnya About Time. Coba tonton deh, filmnya ringan dan menyenangkan. 

Selesaikan Masalahnya 
Ketika hati lebih tenang, pikiran lebih jernih, biasanya akan lebih siap menghadapi masalahnya. Lebih siap untuk mendengarkan, bernegosiasi, berargumentasi, dan juga meminta maaf. 

Ketika lebih lapang dan kepala lebih dingin, kita juga lebih siap dengan konsekuensi dan jalan keluar. Semua ketakutan dan kekalutan seringnya hanya skenario terburuk yang muncul di kepala karena dikuasai marah. 

Semua emosi sebaiknya tidak ditahan. Harus disampaikan, dan dicarikan jalan keluar. Tapi sebagai manusia dewasa, ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan. Itulah kenapa langkah-langkah menenangkan diri ini penting. 

Jika memang akhirnya perlu bantuan lebih lanjut, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan yang lebih ahli. Itu adalah hal yang sangat baik! Karena tidak semua orang memiliki kesadaran untuk memperbaiki diri. 

Pada akhirnya, emosi itu bagian dari kita sebagai manusia. Bukan untuk dihapuskan, tapi untuk dipahami dan dikendalikan.

Demikian, Semoga minggu depan jauh lebih menyenangkan! 

Saturday, September 6, 2025

Di Balik Jabatan Strategis: Meritokrasi atau Sekadar Privilege?

Penjelasan:
Meritrokrasi dalam tulisan ini adalah posisi/jabatan/pekerjaan diberikan kepada seseorang berdasarkan kemampuan, pengetahuan, kinerja, dan pencapaian profesional.

Gara-gara huru hara tunjangan DPR yang ga masuk akal kemarin, ramai muncul di social media tentang Mulan Jameela, anggota DPR RI dari Partai Gerindra. Ternyata nama legal dia memang Mulan Jameela, saya kira hanya nama panggung.

Ok, yang ramai dibicarakan adalah, Mulan ini ditugaskan di Komisi VI: Perdagangan, Kawasan Perdagangan, Pengawasan Persaingan Usaha dan BUMN. Netizen mempertanyakan kapabilitasnya. Tanpa latar belakang pendidikan yang berkaitan dengan bidang tersebut (kecuali mungkin kalau waktu SMA dia jurusan IPS, sumpah ini ga nyinyir), juga tanpa pengalaman yang relevant untuk memahami isu-isu perdagangan dan BUMN. Makanya jadi viral di sosial media.

Hampir bersamaan, 20 Agustus 2025, PT Waskita Karya (BUMN) mengumumkan susunan Komisaris perusahaan yang baru. Salah satu Komisaris Independen mereka bernama Aqila Rahmani. Tidak dinyinyir separah Mulan, namun profilnya juga menarik perhatian. Aqila lulus S1 & S2 hukum di UPH. Pengalaman kerjanya sebagai Manajer Investasi di Koperasi Nusantara, lalu tiba-tiba menjadi Komisaris Independen Waskita Beton, sebelum diangkat di posisi saat ini. Untuk saya mbak-mbak kantoran HRD, career growth Aqila sangat amat terlalu mencengangkan sih. Oh satu lagi, pengalaman organisasi beliau dari Partai Gerindra.

Kalau mau jujur, banyak sekali anggota DPR dengan profil dan situasi yang mirip dengan Mulan. Pun juga banyak pejabat BUMN dengan latar belakang miripan dengan mbak Aqila. Kebetulan saja mereka berdua yang apes disorot media. 

Presiden Prabowo beberapa kali dengan sangat terbuka menyampaikan kepada media bahwa penunjukan pejabat pemerintahan beliau menjunjung tinggi kompetensi dan meritokrasi. Dia juga memerintahkan kalau pemimpin BUMN harus berdasarkan meritokrasi. Rosan Roeslani bahkan sempat mengatakan: Best Brain, Best Talent. Hhhmmmm.....

Reaksi pertama saya membaca berita-berita itu tentu saja kesal dan marah. Hanya karena menjadi anggota elit partai penguasa, maka dengan mudahnya menjabat posisi-posisi strategis yang menentukan hajat hidup orang banyak. Enak sekali jadi mereka.

Sampai akhirnya ada obrolan yang membuat saya berpikir ulang tentang ini. Apakah posisi dan jabatan selalu harus diisi dengan asas meritokrasi? Idealnya begitu, tetatpi tidak selalu. Begini argumentasinya.

Meritokrasi akan berhasil jika kemampuan populasi atau masyarakatnya setara. Setara dalam hal kualitas pendidikan, kesehatan, lingkungan sosial, dan juga kepastian hukum. Dengan kesetaraan di berbagai aspek ini maka satu generasi itu akan memiliki tingkat pengetahuan, vitalitas, koneksi sosial dan kemampuan yang setara. Dan ketika suatu pekerjaan atau jabatan muncul, orang-orang ini bisa bersaing dengan peluang yang mirip. 

Negara-negara yang bisa menerapkan meritokrasi juga tidak banyak, mungkin sementara ini yang notable adalah Singapore dan negara-negara Nordik seperti Denmark, Sweden, Finland dan Norway.

Bagaimana dengan negara tercinta Republik Indonesia ini? Nampaknya susah. Bukan hanya alasan politis dimana pemimpin terpilih harus "balas budi" atau penjatahan untuk partai pendukung, ini pasti kalian sudah lebih paham dan tau dan sebal.

Yang saya mau ceritakan, dan kemarin karena langsung kesal jadi tidak terpikirkan adalah tentang pemerataan. Sayangnya di negara ini, apapun masih belum merata. Pendidikan, kesehatan, distribusi pangan, pembangunan infrastuktur, dan hubungan sosial lainnya. Kecenderungan Jawa-sentris diakui atau tidak memang masih sangat berperan. Banyak daerah lain di Indonesia (terutama di Timur) tidak mendapatkan kesempatan yang sama dengan mereka yang di Jawa.

Maka ketika ada anak yang sangat pintar dari Sumba Barat Daya misalnya, dimana jaringan internet masih GSM (Geser Sedikit Mati), dia mungkin akan melewatkan iklan Beasiswa Djarum sehingga kesempatannya untuk bisa kuliah di ITB hilang. Padahal kalau saja dia tau dan dia ikut ujian masuknya, dia pasti bisa. Semakin kecil kesempatan dia menjadi insinyur dan menjadi Menteri Perdagangan.

Atau ketika ada seorang anak SD yang sangat bersemangat sekolah di Larantuka sana, harus melewatkan hari sekolah yang sangat penting ketika dilakukan vaksin campak dan pembagian susu gratis karena hari itu dia harus menggembala ternak. Berkurang sudah kesempatannya untuk sehat bugar dan ikut tes Akpol nantinya. Semakin jauh dia dari kesempatan menjadi Menkopolhukam.

Kalaupun ada yang berkesempatan bersekolah atau diekspos setinggi-tingginya, menjadi sebuah anomali. Karena persentasenya teramat kecil. Nyaris mendekat 0!

Maka dari itu pemerataan diperlukan sebenarnya. Pemerataan kesempatan untuk anggota legislatif perempuan. Memastikan anggota Parlemen ada dari setiap daerah, menteri-menteri dari area-area yang bukan mayoritas. Dengan tujuan orang-orang ini yang akan membawa kesetaraan di daerahnya. Mulai membawa arah pendidikan, kesehatan, kesejahteraan dan pembangunan di daerahnya. Idealnya begitu. Kenapa makanya para anggota DPR/DPRD diberikan tunjangannya komunikasi dengan masyarakat dan masa reses untuk bertemu konstituen mereka.

Jika pemerataan tidak dilakukan maka yang mendapatkan posisi adalah mereka yang punya privilege saja. Privilege bukan hanya dari latar belakang ekonomi, tetapi juga dari jaringan dan koneksi. Masalahnya koneksi ini harus dibangun. Sekolah di lingkungan yang tepat, berteman dengan yang dekat pada penguasa (eh) dan semacam itu.

Kemarin ada teman yang berkomentar, selama bekerja di swasta juga demikian adanya. Sebagian besar orang mendapatkan pekerjaannya atau promosi jabatan karena koneksi. Benar memang, saya harus akui 10 tahun terakhir pekerjaan saya selalu karena koneksi. Dihubungi kawan, dikabari lowongan oleh team di kantor lama, diminta kembali ke perusahaan lama oleh mantan bos, semuanya karena koneksi. 

Tapiiiiii,
Meskipun dengan koneksi, tidak serta merta saya diterima bekerja. Disinilah meritokrasi diterapkan. Saya tetap harus melewati berlapis interview (3 kali minimal, dengan atasan langsung, corporate office, dan owning company), lalu minimal 2 jenis tes: kesehatan dan psikometri, dan pasti mereka juga melakukan reference cek. Menghubungi orang-orang yang pernah bekerja dengan saya dan terstimoni mereka. Proses yang cukup panjang. Kalau jadi chef lebih-lebih lagi, ada beberapa food testing juga.

Koneksi akan berperan untuk memperkenalkan kita pada kesempatan kerja/jabatan tertentu. Sisanya kemampuan, legacy, dan reputasi. Pengalaman juga. Di level manajerial ini agak tidak mungkin langsung diposisi pemimpin. Bahkan para anak owner sekalipun biasanya mereka tetap "dipaksa" bapak ibuknya untuk magang di semua bagian dulu.

Menjadi bermasalah ketika koneksi tidak disertai dengan meritokrasi. Jadinya Nepotisme!

Yaps, pemerataan dan koneksi sangat mungkin terjadi di dunia yang tidak ideal ini. Saya bahkan akan sedikit tutup mata ketika jabatan dibagi-bagi hanya demi jatah politik semata. 

Yang tidak sah adalah ketika posisi sudah diberikan diatas talam bertahta permata, apa susahnya sih mengusahakan agar kitanya menjadi lebih layak. Kan bisa sekolah lagi, kan bisa ambil short course di lembaga pendidikan terkemuka. Dengan privilese dan akses yang ada, itu hal yang sangat mungkin.

Maaf Mulan Jameela saya pakai contoh, dan anggota DPR dengan latar belakang yang sama, masa sudah 2x terpilih menjadi anggota DPR RI tidak ada niatan sekolah hukum? Short Course/Summer Course Bussiness Management?Berikan sedikit saja alasan agar publik percaya pada kemampuan, bukan hanya popularitas

Dah ah, capek nulis serius begini.
Kerjain budget 2026 dulu!

Selamat berakhir pekan!





Saturday, August 30, 2025

Aturan Gaji dan Tunjangan DPR Turun dari Langit atau dari Presiden?

Buleleng - 30 Agustus 2025

Ketika demo terjadi dimana-mana, akibat tunjangan anggota DPR yang besarannya tidak masuk akal. Utamanya yang viral di sosial media adalah tunjangan perumahan sebesar 50 juta per bulan dan tunjangan beras sebesar 12 juta per bulan. Statement mengenai tunjangan rumah ini disampaikan oleh Sekjen DPR, Indra Iskandar. Ada beritanya disini https://www.bbc.com/indonesia/articles/cqle4p2gdnzo 

Selain itu, Adies Kadir, Wakil Ketua DPR menyampaikan rician tunjangan lainnya termasuk tunjangan beras yang naik dari 10 juta per bulan menjadi 12 juta perbulan. Ada beritanya disini https://mediaindonesia.com/politik-dan-hukum/806453/kompilasi-pernyataan-dpr-soal-kenaikan-tunjangan-yang-memicu-demonstrasi-dan-tewaskan-affan#goog_rewarded

Nah, muncul juga segala kelakuan bodoh anggota DPR lainnya, yang paling di highlight tentu saja Ahmad Syahroni, Nafa Urbach, Eko Patrio dan Uya Kuya. Cari beritanya sendiri. Saya muak.

Pertanyaan terbesar yang muncul di kepala saya adalah: GAJI DAN TUNJANGAN DPR DITENTUKAN OLEH SIAPA??

Ga mungkin datang dari langit dong?

Seperti biasa, saya mencoba mencari tau urusan Gaji dan tunjangan DPR ini. Menariknya, ada satu artikel di situs Hukumonline.com menjelaskan tentang gaji DPR dan Dasar Hukumnya. Menarik karena artikelnya ditulis oleh Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc. Artikelnya pertama kali dipublikasikan tanggal 3 Maret 2021 dan terakhir diperbaharui 28 Agustus 2025. Jadi sangat update.


Intisarinya gini:
  • Aturan umum mengenai gaji dan tunjangan untuk pejabat negara, termasuk Anggota DPR diatur oleh undang-undang
  • Ketentuan mengenai besaran Gaji pokok dan tunjangannya diputuskan oleh Presiden, dituangkan dalam Perpu dan Kepres.
  • Pelaksanaan/eksekusinya dilakukan oleh kementrian keuangan
Surprise, surprise!
Untuk saya yang tidak paham hukum tata negara dan segala segala itu, agak kaget!
Saya menyalahkan DPR dan ketidak-kompetenan mereka menjadi lembaga legeslatif mendapatkan imbalan penghasilan yang terlalu tinggi. Kalau kerja mereka benar, produk undang-undang yang dihasilkan juga benar, KPI yang jelas dan tercapai, akan menjadi wajar. Dan menjadi wajar sekarang rakyat menuntut tanggung jawab.

Tapiiiii, in my very personal opinion, yang juga harus dituntut tanggung jawabnya adalah Presiden Republik Indonesia! Atas dasar apa dia memberikan (dan menaikkan) gaji dan tunjangan para anggota DPR yang jelas-jelas tidak tercapai KPI-nya? 

Oh, salah seorang teman bilang - kan Kepresnya sudah dibuat oleh presiden sebelum dia. Well, then di evaluasi dong! Diganti, diubah, diapakan lah itu sepatutnya! Menteri saja bisa dia ganti dengan orang-orang yang dia mau! Proyek fantastis MBG dengan biaya triliunan saja bisa dia jadikan. Masa beginian tidak bisa??

Ini bukan tentang mengganti UU. Ini adalah tentang Keputusan Presiden dan Peraturan Pemerintah.

Apalagi sekarang ketika rakyat menuntut jawaban.
Jangan diam! Seolah-olah anda, yang dipertuan agung, tidak paham dan turut serta dalam perkara pelik ini! 

Mungkin saya yang berdarkan ucapan Deddy Sitorus, anggota DPR dari fraksi DPIP digolongkan sebagai rakyat jelata ini salah memahami peraturan undang-undang dan ketatanegaraan yang berlaku. Karena itulah saya menuntut jawaban. Penjelasan yang transparan. Katanya minta dipercaya kan???

Presiden Republik Indonesia harus turut serta menjawab dan bertanggungjawab atas situasi ini!

Jangan sekedar: maaf, menyesal, akan mengusut, TNI dan Polri menindak tegas. Duh, siapa sih yang bertugas sebagai PR-nya presiden ini... kok ya gmn gitu, kurang pintar!

Jawaban yang diperlukan rakyat Indonesia, atau setidaknya saya adalah jawaban sederhana:
- Sebagai Presiden, penguasa negara, apa yang akan anda lakukan. Jangan delegasi teruslah!
- Kapan tindakannya akan dilakukan
- Kapan follow up lanjutannya, sebelum rakyat menagih kembali update dari anda

Fokus ke manajemen konflik. Chaos control. Crowd management. Bukannya malah ditangkap dan ditembaki. Buktikan kalau saya salah menilai anda hanya berdasarkan kejadian 1998. Kalau begini caranya, anda hari ini tidak ada bedanya dengan anda 27 tahun lalu. Ga mungkin minta suaka ke Jordan lagi kan habis ini? Disana juga gonjang ganjing kok.

Udah segitu dulu!

Wednesday, July 2, 2025

Winda: The Overthinking Mbak-Mbak Kantoran

Sudah terlalu lama tidak menulis. Terlalu overthinking. Apakah topik yang akan ditulis cukup menarik untuk dibaca orang-orang? Apakah premisnya cukup masuk akal untuk dijadikan sebuah artikel. Dan yang paling tidak bisa saya terima: apakah tulisan ini cukup keren untuk Winda, si mbak-mbak kantoran late thirties yang beberapa waktu terakhir banyak mengevaluasi posisinya di tempat kerja sebagai Director of Human Resources.

Ok, let me get this straight, I am now trying to be more honest to myself. Trying. Thats the key, and it might not be easy. For whatever reasons I dont know, i am not so comfortable to say and talk about my position out loud. I am grateful for sure. And of course proud. But, i am so afraid that it will sound sombong and people wont appreciate it.

Dont get me wrong, I love my job. I really do. Tidak seperti meme yang sering menertawakan office job seolah-olah kegiatan bekerja kantoran ini a big joke. No, for me, this is part of me. Part of my identity. Like it or not all my personal achievements are only possible because of this 9-6 job. 

Not only the house, car, travelling, my parents comfort. Beyond that, my decision making skills, my problem solving capability, my "prepare for the worst" value, and even Winda the extrovert, all because I was well trained at work. Actually there were times i "consult" my friend, siblings, even my parents in a very "HR way" and thats what they like when they talk to me. Sense and solutions. I guess.

But sometimes i am overwhelmed. A friend told me once "Winda, i want you to feel! Angry with me! Sad with me! Not giving me some logical advice." Maybe this person were right. I have to feel a bit more. But feeling is hurt. I dont like it.

Being an HR Director I feel that have some sort of responsibility to be resourceful. When people are confused with their problem, i should always be able to give them options, to decide the solutions. You know, menjadi Kak Inda dan Ibu Winda. I tried, almost all the time. Tapi kadang-kadang saya juga tidak tahu jawabannya. Kesalahan terbesarnya mungkin, instead of bilang "maaf, i cant help you or i dont know what to do" saya biasanya akan bilang "wait, give me sometimes. let me think/find another way" It's actually menyenangkan. Rewarding malah kalau masalahnya selesai.

Ketika interview dengan tempat kerja yang sekarang, salah satu pertanyaannya (calon) bos adalah "what do you enjoy the most from your job" with no hesitation i said "conflict management. solving the unpleasant situation that seems unlikely to be handled by others." It sounds cooky i know, but thats the reality. The side effects, I actually absorbing lots of the collateral damage. The low energy, the heat of emotions, the wave of sadness, and of course the joy of celebrations. Maybe that's actually because I am a pick me girl. Am I? Always want to be different. Always want to control the room. The best in the group. The attention seeker. Maybe that's who I am.

What I am so afraid now? Am I being too much? Am I getting so sombong and annoyed people around me? Am I stealing the lights from others? I cant do this. I have to slow down. I have to lay low. I guess.

And I am tired. I need time alone. Soon.

Friday, April 11, 2025

Random Thought: Sebenarnya Apa Yang Salah Dengan Negara Ini?

Saya menulis ini dalam perjalanan kereta dari stasiun Tegal ke Gambir, setelah obrolan tanpa tujuan dengan Dok seperti biasa.

Keresahan-keresahan saya kali ini sebagian besar bersumber dari kondisi politik dan bagaimana pemerintah mengelola negara ini. Telalu banyak hal yang harus dikritisi dan dipertanyakan. Terlalu banyak hal yang diliuar nalar. Sebenarnya apa yang salah dengan Negara ini.

Dok membandingkan Indonesia dengan Cina. Saya protes keras. Terlalu jomplang lah. Pembadingnya akan menjadi oke kalau dibandingkannya dengan Rwanda atau Nigeria. Minimal Cambodia mungkin. Sekarang saja Vietnam nampaknya jauh lebih maju kok. 

Kalau tidak percaya, baca berita ini: Pertumbuhan Ekonomi Vietnam Kalahkan Indoneisa

Suka tidak suka, pertumbuhan ekonomi pasti menjadi indikator keberhasilan suatu negara. Dan rumah tangga. Dan manusia pada umumnya. Meskipun katanya kebahagiaan tidak melulu tentang uang, tetapi pada porsi tertentu base line ekonomi itu harus terpenuhi dulu. Kan.

Lalu, setelah Presiden 8 berkuasa, masalah politik dan pemerintah rasanya semakin parah dan tidak pernah habis. Yang membuat gusar, urusan-urusan prinsip. Bagaimana pemerintah membelanjakan APBN. Membiayai program-program mercusuar yang sangat rentan (dan nyaris pasti) dikorupsi. Dan yang paling meresahkan saya adalah proses pengesahan UU TNI yang untuk ukuran negara se-lelet Indonesia, prosesnya sangat instant! Kebijakan-kebijakan yang terlalu mencurigakan untuk dipercaya niatannya benar-benar untuk kebaikan bangsa, bukan untuk kepentingan kaumnya.

Sebenarnya sudah beberapa kali kami membicarakan ini. Obrolan yang tidak berujung kemana-mana sebenarnya. Terlalu membuat mumet kalau tidak dibicarakan. Apa sih yang salah dengan negara ini. Kenapa mental manusianya (dan terutama pejabatnya) buruk sekali!  

Hal yang harus saya jelaskan, Dok tidak selalu setuju kok dengan pandangan politik saya. Contoh, jaman debat capres dulu, Dok cukup percaya kalau Wapres sebenarnya lumayan pintar. Jawaban-jawaban yang diberikan bukan jawaban standar yang bisa dihapal, meskipun belakangan dia mulai mempertanyakan penilaiannya. Atau ketika muncul rekaman Presiden 8 diwawancara oleh para Pimred dan Najwa Shihab (saya belum nonton), katanya kelihatannya Pak Presiden ini terlihat pure ga tau banyak masalah yang sebenarnya terjadi. Tingkat kognitif beliau ya memang selalu segitu dari jaman dulu. Saya ngomel, itu salahnya, salah pilih orang! Tapi Dok bilang, untuk urusan sebesar ini, pasti akan ada yang kelewatan. Lagi-lagi saya tidak setuju. Yang kelewatan masalahnya urusan besar! Undang-undang! Bukan sekedar pejabat punya selingkuhan dan beranak pinak. Ya, saya perlu obrolan-obrolan penyeimbang ke-emosian macam ini.

Dalam setiap perdebatan dan obrolan yang lebih sering tidak berfaedah itu, ujung pertanyaannya selalu sama. Apa sih yang salah dengan Negara ini? Kenapa setelah nyaris 30 tahun reformasi, korupsi masih begitu-begitu saja, penegakan hukum juga begitu-begitu saja, pertumbuhan Ekonomi membaik tetapo kalau dibandingkan negara lain ya cukup sewajarnya, kekuatan Paspor juga tidak bertambah signifikan. Apa yang salah?

Ternyata kesimpulan kami juga selalu sama, entah apa, tapi cukup yakin ada yang salah dengan sistem pendidikan di Indonesia. Proses pembentukan karakter, ketahanan mental, daya juang, keinginan berkompetisi. Entah karena sistem pendidikan yang selalu berganti setiap pergantian menteri, entah kesejahteraan guru yang menjadi prioritas terakhir untuk negara ini, entah memang negara menganggap kepintaran itu tidak penting! Iya, kemarin Presiden 8 bilang gitu kok.

Contohnya, bapak saya adalah pensiunan guru SMA. Hampir separuh hidupnya menjadi Guru PNS. Beliau cerita, tingkat kelulusan murid SMA itu 100% bukan karena kualitas pendidikan dan anak-anak yang baik. Tetapi karena terpaksa! Karena ranking sekolah ditentukan oleh tingkat kelulusan itu, segala tunjangan guru yang tidak seberapa itu juga ditentukan oleh tingkat kelulusan. Tau ga gaji guru PNS itu berapa? Mereka yang sudah golongan IV macam Bapak, itu antara 3jutaan - 6jutaan saja. Itu mereka yang rata-rata masa kerjanya 20+ tahun! Coba saja tanyakan pada guru PNS disekitarmu atau cek artikel ini: Rincian Gaji Guru

Pun dengan kurikulum sekolah, kegiatan membaca tidak dianggap penting. Lihat saja kondisi perpustakaan di sekolah-sekolah, menyedihkan. Lebih penting makan siang gratis sih memang daripada membaca. Kalau ga makan mati, kalau ga membaca ya ga apa, masih hidup saja. Di banyak sistem pendidikan di negara maju, membaca adalah kewajiban, menulis adalah keharusan. Dua kegiatan yang di Indonesia ini sangat diremehkan. Padahal kegiatan ini lama-lama akan menjadi kebiasaan, menjadi budaya. Dan menurut saya, dua hal ini adalah dasar untuk berpikir kritis dan strategis. Well, bisa saja saya salah kan tapi.

Selain pendidikan, ada yang salah dengan sistem di negara ini. Tidak jauh-jauh dengan sistem pemerintah deh, sistem antrean rumah sakit coba. Kacau! Kapan terakhir kali anda ke rumah sakit pemerintah? Perhatikanlah sistem antreannya yang diterapkan, lalu pikirkan hal-hal yang bisa dipermudah dalam sistem birokrasinya. Bisa. Tapi entah kenapa tidak mau. Tidak kurang orang pintar yang bisa membuat sistem yang lebih rapi. Sehingga siapapun kepala rumah sakitnya, sistemnya sudah berjalan dan rapi. Apakabar sistem peradilan, tanya sekeliling deh kalau ada orang yang berkasus bagaimana (dan berapa uang) prosesnya berjalan. Riweh!

Begitu juga dengan pemerintahan dan politik. Sistem untuk menjaga stabilitas. Bukannya kalau pejabat Pak Ahok, baru bisa accountable, pejabat lain engga bisa. Seharusnya ada sistem yang bisa diterapkan. Banyak kok orang Indonesia yang sekolah ilmu politik bahkan ke sekolah-sekolah terbaik di muka bumi, tapi entah kenapa mereka semacam tidak dimanfaatkan. Malahan yang terpilih jadi Menteri banyak yang dipertanyakan kognitif dan intelktualnya, padahal sama-sama sekolah di luar negeri.

Banyak orang akan bilang kepada saya, jangan cuman bisa nyinyir dan protes, kasi solusi! Sejujurnya, ini sambil mikir solusinya apa. Akhir tahun lalu dengan seorang teman sempat ngobrol intense mau bikin sekolah! Rasanya sangat banyak hal yang perlu saya siapkan dan kerjakan. Tapi sekarang Ferry Irwandi katanya mau bikin sekolah, semoga Istiqomah dan Amanah! 

Saya yakin, pendidikan yang baik akan mengubah banyak hal, termasuk kondisi negara!

Sementara ini, ijinkan saya mengeluh saja dulu ya. Beasiswa kakak asuh tetap jalan kok. 4 anak sudah sarjana dan bekerja, 2 lagi masih kuliah. Semoga ini menjadi salah satu jalan untuk mereka menjadi warga negara yang lebih baik. Setidaknya tidak nambah-nambahin carut marut sosial ekonomi. Semoga bisa terus berlanjut, diberi rejeki dan kewarasan.

Happy weekend!

P.S tulisannya akhirnya selesai di Sanur, sambil minum kopi dan memandang lautan.

Source: Photo by Brian Wertheim on Unsplash



Wednesday, March 26, 2025

Ingin Berani

Ingin sekali berani.
Menulis keresahan-keresahan tentang negeri.
Seperti Wiji Tukhul, tak berhenti sampai hilang serupa ditelan bumi

Ingin sekali berani.
Menuntut proses hukum untuk sang suami
Meski kecewa berkali-kali
Seperti ibu Suciwati

Ingin sekali berani.
Berjuang menuntut petinggi negeri
Untuk mereka yang hilang, diculik, dibunuh, dan atau dicurangi
Seperti Munir Said Thalid, bahkan sampai dia mati

Ingin sekali berani
Melawan diktator yang bangkit kembali
Dari sisa-sisa rezim yang yang mati suri
Mengambil kebebasan, merampas hak menuntuk kembali

Ingin sekali berani.
Menulis tanpa harus berhati-hati
Takut jika nanti berakhir dipopor senjata TNI

Ingin sekali berani.
Menuntut pemerintah dan ikut demo berhari-hari
Berteriak meminta keterbukaan dan perubahan dari sore hingga pagi
Tapi takut jika akhirnya di bui

Ingin sekali berani.
Melawan sekumpulan oligarki
Meski rasanya berdiri nyaris sendiri
Tapi sebenarnya banyak kawan diluar sana nyaring melawan dan tak bersembunyi.

Ingin sekali berani.
Semoga aku bisa lebih berani.

Wednesday, February 19, 2025

Menyerah, Pasrah, atau Kalah? AKU MEMILIH MARAH

Banyak orang sedang marah
dengan kelakuan bromo corah
lebih lagi oleh pemimpin serakah
inginnya mengubah arah
mengganti sejarah
menumpahkan darah
Tapi rasanya aku ingin menyerah

Banyak orang sedang luka
dengan janji-janji yang ujungnya dusta
katanya makan siang gratis untuk siswa belia
nyatanya gaji guru mereka sita
memang urusan perut paling penting untuk kami yang jelata
lebih penting daripada pikiran yang cerdas terbuka
Tapi aku lelah dan tak bisa lega

Banyak orang sedih
dengan congkaknya penguasa pilih kasih
seolah bijaksana, nyatanya pamerih
katanya wong cilik, tapi pembela wong sugih
seakan baik budi, sayangnya hanya tukang sembelih
Tapi aku jerih

Banyak orang akhirnya melawan
karena tak lagi bisa percaya kawan
ketika penguasa sukanya menebar ancaman
konstitusi dikuasai politisi gadungan
yang dikiranya sang pangeran 
tidak lebih dari sekedar badut hobi cengengesan
Tapi aku kelelahan

Sampai kapan kalian para durjana berkuasa
5 tahun kurasa, 
10 tahun mereka maunya,
Kalau bisa selamanya!
Gila!

Merusak, mengoyak, menganiaya
Mereka tidak meminta nyawa.
Belum! Mereka meminta raga dan jiwa!
Kewarasan dan kecerdasan mereka tukar dengan tipu dunia maya
Sementara bumi pertiwi mereka perkosa
koyak sampai tak bersisa!

Mereka buat kami semakin bodoh dan tak peduli
Ciptakan generasi minim literasi
Jejali kami dengan kecanduan judi
Sehingga otak dan hati tak lagi punya arti
Sementara kalian jarah tanah ulayat leluhur kami!
Babi!

Bisa kalian tertawa terbahak
Sementara kami nyaris mati tersedak
Pintar kalian menutup telinga, pekak!
Sementara kami kehilangan semua hak!

Aku lelah. 
Terpikir untuk menyerah.
Pasrah

Tapi aku MARAH
belum mau kalah.
Kalau kalian anggap ini sia-sia, terserah!
Aku belum siap menyerah.

Mungkin saatnya turun kejalan dan berteriak tentang keadilan
Atau mungkin saatnya menggunakan ilmu kanuragan
Paling tidak aku masih bisa bersuara lewat tulisan.

Wahai pemimpin negara jumawa
Kalian ada di setiap doa doa
Agar malaikat tidak alpa mencatat dosa
Karena kalian sudah kupesankan kavling di neraka!
Jahanam!






Sunday, February 9, 2025

Sebuah Argumen (Tidak Valid) - Tentang Cinta

Sabtu pagi, saya punya waktu berlama-lama melakukan ritual sakral wajib semua umat manusia di kamar mandi. Sambil nongkrong, mendengar lagu-lagu India romantis, sambil melakukan keahlian utama saya, daydreaming alias berkhayal.

Menghayalnya jadinya romantis, gegara mabok lagunya Arijit Singh dan Armaan Malik nampaknya. (Karena kalu dengarinnya produk Hans Zimmer menghayalnya biasanya tentang alien).

Okay, lets talk about love. The most favorite eternal topic. Bukan tentang jatuh cinta, dimabuk cinta atau putus cinta. I have no enough capability to talk about it. Urusan percintaan romantis saya mainly gagal total. This is about love it self. What love is.

Under my nice morning hot shower, saya memutuskan cinta adalah kemauan dan kehendak ikhlas untuk berkompromi dan berkorban demi orang lain (atau hal lain) yang pada akhirnya menjadi sumber kebahagiaan personal. Nah, ribet ga tuh!

Lets put that in a bullet points, yaps clarity needs bullet points including love!

Kemauan
Kalau ga mau dan ga pengen maka ga akan bisa diusahakan dong. Jangankan cinta, makan nasi padang aja harus ada kemauan dulu kan. Apalagi something as big as love. Some people said love is magical. 

Well it's actually chemical. A complex chemical reaction in the brain. Testosterone and estrogen for the most ancient part - lust. Dilanjutkan dengan  dopamine, oxytocin dan entah apa lagi. Reaksi kimia ini ada tahapan dan durasinya. Untuk menjaganya tetap stabil, perlu usaha. So nothing magical about it.

Sama seperti kembang api, orang-orang dulu mengira kembang api itu produk sihir. Kenyataannya adalah kombinasi kimia yang komplex dengan hasil yang indah. That's love. Chemical reaction. Reaksi kimia dalam otak dan tubuh manusia dan menghasilkan rasa yang indah macam butterfly in my stomach - situation. Duh, ini ga nyambung blas. next!

Kehendak Ikhlas
Kalau tidak ikhlas berarti paksaan, bahasa puitisnya para pujangga itu, urusan hati tidak bisa dipaksakan. Semuanya harus karena kemauan tulus ikhlas atas ilham ilahi. Kalau dipaksakan jadinya malah kisah cinta Siti Nurbaya (btw kurikulum sekolah jaman sekarang masih membahas perkembangan sastra Indonesia ga sih?).  

Tapi entahlah ya, di salah satu artikel BBC (klik disini kalau mau baca) menyatakan bahwa tahun 2018 93% pernikahan di India itu karena perjodohan. Dan menariknya lagi, India tergolong negara dengan tingkat perceraian paling rendah di dunia. 

Padahal kalau menggunakan argumen lemah saya tentang Kehendak Ikhlas, perjohohan harusnya kehendak dipaksakan dong. Well, marriage doesn't necessarily about love and we are all agree about that (I hope). Sementara tentang angka perceraian, ada jauh lebih banyak kompleksitas sosial yang harus dijabarkan ketika menjelaskan angka-angka ini. Termasuk agama, ekonomi, bahkan politis.

Duh, ga nyambung lagi. Next dan janji akan balik ke setingan romantis!

Kompromi
Well, saat tidak ada hal yang sempurna di alam semesta rasa (termasuk rumus fisika menurut Prof Brian Cox). Including your love interest. 

Let say you love Bali so much, you yet still need to compromise with the traffic, the overcrowd, and the not so smart Bule sometimes. Because at the end you loves their beach, the babi guling, the free feelings of wearing tank top only without no one cares and questioned you.

Atau ketika kita cinta kali dengan pasangan tetapi ternyata dia tidurnya ngorok. Well, karena cinta harus mau kompromi dong. Either tidur pakai airplug, tidur di ruangan terpisah atau si tersangka ngorok ikut terapi biar ngoroknya ilang.

Because they said, love will tackle all the obstacle. Cinta bisa mengalahkan segala halangan dan rintangan. Jangankan cuman ngorok, agama dan restu orang tua saja bisa dihempas atas nama cinta kan! 
Selama mau berkompromi, tidak selalu win-win. Kadang mengalah, kadang mengalahkan. Tidak selalu bisa menjadi pemenang. Gitu! - katanyaaaa

Berkorban
Kompromi dan berkorban ini menjadi semacam sebab akibat. Kalau siap berkompromi berarti siap mengalah untuk beberapa hal. Seperti yang saya tulis di paragraph sebelumnya, konsep win-win itu untuk saya agak absurd. Pasti ada yang "mengalah untuk menang" atau "mengalah untuk ketenangan bersama" atau "mengalah karena udah males aja".

Keputusan untuk mengalah, meredakan marah, menurunkan ego, mumutuskan untk sejenak turun ring tinju adalah berkorban. Berkorban karena terlalu cinta. Bercinta itu bukan bertarung. Ketika bertarung, semua dikerahkan sampai titik darah penghabisan. Perbedaannya dengan bercinta? Ya itu, berkorban itu intinya iklas.

Dalam KBBI saja arti kata berkorban adalah menyatakan kebaktian, kesetiaan dan sebagainya. Semacam kegiatan yang mulia kan?

Hampir semua ibu, rela mengorbankan diri demi anaknya. Literally her life for her children. Nothing greater than mom's love to their kids i think. Banyak orang tua berkorban their personal comfort for their family and kids. This could be cultural or social, but this must also been love kan.

Bahkan in a friendship, we give our time for them. That's the least we can do, but actually time is the most precious resources. We can't repeat it. We almost can't add it. Our time is limited. And when we are willing to giving up our time for something or someone, that's love.

Pada Akhirnya Menjadi Sumber Kebahagiaan Personal.
So, cinta memang se-paradox itu.
Di satu waktu kita ikhlas kehilangan, terluka, berkorban, tersakiti atas nama cinta. Dengan sadar sepenuhnya mau mengalami penderitaan. Kenapa? Kenapa manusia bisa se-masokis itu atas nama cinta.

Karena semua itu pada akhirnya cinta dan segala kompleksitasnya menjadikan kebahagiaan untuk yang menjalani. Jarak yang jauh bekerja ke kapal pesiar tidak menjadikan putus asa ketika pulang kerumah sudah bisa melihat rumah impian sejak anak-anak mulai nampak wujudnya. Bekerja lembur sampai migrain menyala-nyala serasa seperti candaan saja ketika tabungan akhirnya cukup untuk jalan-jalan ke Peru untuk melihat Machu Pichu.

Bertahan dalam hubungan yang belum tentu ideal dan terkadang menyesakkan terbayar ketika sesekali masih bisa dielus kepala dan diajak makan malam bersama. Setia pada pasangan yang seringnya membuat hati ngilu (dan bahkan terkadang badan biru-biru) terbayar ketika bertemu kerabat dan karib tidak lagi harus menjelaskan kenapa belum juga punya pasangan di tatapan lega para tetua karena akhirnya standar sosial sudah terpenuhi semua. Kesakitan dan pertaruhan nyawa ketika melahirkan terbayar lunas ketika bayi tersebut lahir dan menangis keras.

Yah, cinta sebenarnya se-egois itu.
Pada akhirnya semua demi keuntungan sendiri. Kabahagiaan yang hanya diri sendiri paham bagaimana rasanya. Meski dunia mengatakan pasangan buruk rupa, perangainya bagai durjana, tetapi ketika membuat bahagia, yah sudah bertahan.

Cinta akan berkhir ketika tidak ada lagi alasannya untuk bahagia dalam situasi yang sama. Entah karena sudah tidak ada lagi yang bisa dikorbankan, entah karena sudah lelah ikhlas, atau karena tidak ada lagi reaksi kimia. Ketika semuanya hilang, ya sudah. Selesai urusan cinta-cintaan ini.

I used to say, there's a very thin line between love and stupidity.
Of course this is not a valid arguments, but that's what i feel.

Well, kontemplasi sabtu pagi di kamar mandi saya ternyata lumayan juga! Hahaha...
Mari merayakan cinta!

Disclaimer: this photo is for illustration only 😜








 

A Piece of Mind . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates